Bagaimana Cara Menjalankan Sunnah yang Benar?

Habib ALi Zaenal Abidin ALJufri Syaikh Said Al buthi
Berangkat dari kurangnya pemahaman dan ketelitian dalam memahami teks agama, seseorang kemudian sangat semangat menjalankan kesunahan sehingga mengabaikan sesuatu yang wajib. Ia kurang pandai atau tidak tepat dalam menjalankan akitivitas sunnah tersebut sehingga jangankan pahala yang didapat dari menjalankan kesunahan, justru keburukannlah yang akan ia terima gara-gara tidak tepat menempatkan kesunahan. Lalu bagaimana menjalankan kesunahan sesuai dengan pemahaman Ulama pewaris Nabi? Berikut ini ada tulisan Mas Imron di facebook yang menukil dari kalamnya Ulama Besar Habib Ali Zainal Abidin Aljufri.
***************
Melaksanakan sunnah harus sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan. Sekarang banyak yang semangat melakukan sunnah tapi tidak mengetahui kapan waktu yang tepat untuknya. Modal semangat tanpa didasari dengan keilmuan.

Saya ingat cerita Syaikh Muhammad al-Ghazali. Suatu ketika beliau menyampaikan kuliah. Duduklah salah satu murid tepat didepan beliau duduk. Murid itu setiap waktu bersiwak. Ia terus menggerakkan siwak dimulutnya, kekanan kekiri dan terus menerus. Sesekali ia biarkan siwak itu menempel dimulutnya, lalu ia kembali bersiwak dan menggeraknya dengan tangan kekanan dan kekiri.

Syaikh merasa terganggu konsentrasinya. Gerakannya terlalu sering hingga mengganggu fokus.
"Nak, tolong sudahi siwakanmu itu. Kamu mengganggu konsentrasi saya," kata syekh kepada murid tersebut.
"Hai, syaikh ! ini sunnah nabi. Apakah kamu mengingkari sunnah?" jawabnya dengan suara meninggi semangat.
Syaikh diam dan terkejut atas jawaban tadi.
"Nak, mencabut bulu ketiak itu juga sunnah, apakah kamu akan mencabutinya di majelis ini juga?"
Seisi ruangan tertawa. Ia akhirnya malu.

Ini akibat dia kurang wawasan akan sunnah. Tidak melihat waktu dan tempat. Keadaannya bagaimana.

Ilmu adalah dasar dalam melaksanakan sunnah dengan baik.
Habib Ali Zaenal Abidin ALjufri

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »