Puisi Muhasabah (Permenungan Dini) Santri Salaf

Sudah menjadi kebiasaan Santri salaf (tradisional) sering melakukan perenungan di sela-sela waktu istirahatnya setelah menjalankan aktifitas ngaji kitab kuning khas pesantren salaf. Berikut ini ada sebuah puisi dari seseorang yang mendambaikan kedamaian jiwa.
*****
Melalui ruang maya yang berpijar-pijar, aku menatap dalam terang: bumi manusia tampak begitu bebas dan liar.

Siapa saja boleh berkata apa saja, 
menulis apa saja, 
melampiaskan apa saja, 
mencacimaki siapa saja, 
bikin senyum atau ketawa siapa saja.

Berapa juta sudah kata-kata provokasi berhamburan di udara setiap jam atau hari.
Berapa juta sudah lidah menghembuskan suara-suara yang membakar otak dan dada, tiap hari, tiap detik.

Berapa juta sudah kata Tuhan disebut dalam hening malam yang pekat dari suara yang mengiba-iba, tiap pagi, tiap petang.

Berapa juta pula tetes air mata jatuh dari hati yang berharap akibat luka dan lara.
Kebaikan dan keburukan bertempur dalam kabut dan temaram.
Dua kutub bumi manusia bertemu dalam degup yang gemetar.

Apakah sesungguhnya yang kau cari, duhai manusia, duhai Palupi?.
Hendak kemanakah langkah kakimu diayunkan, duhai manusia, kekasihku?

Sumber: Ustadz Ahmad Syatibi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »