Komitmen Para Pemuda Untuk Bangsa dan Negara Indonesia

komitmen untuk bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Pada 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesiche Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta, perwakilan para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara mendeklarasikan Sumpah Pemuda.

Mereka berkomitmen untuk bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah itu menjadi tahapan penting dari perjalanan gerakan nasionalisme yang kemudian memuncak pada Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

Kini, 87 tahun kemudian, para pemuda Indonesia dari beragam profesi memaknai Sumpah Pemuda dari perspektifnya masing-masing, dan menjadikan pemaknaan itu sebagai semangat untuk berkarya dalam kehidupan kontemporer sekarang.

Mereka adalah animator Marsha Chikita Fawzi, pengamat politik dan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, desainer dan pekerja kreatif Yoris Sebastian, sutradara dan aktris Livi Zheng, dan cerpenis Agus Noor. Kompas mewawancarai lima pemuda itu di gedung yang sekarang dijadikan Museum Sumpah Pemuda, Selasa (27/10).

"Makna Sumpah Pemuda itu bagaimana kita bisa melepaskan diri dari perangkap ego," kata Yunarto.

Bagi Livi Zheng, semangat Sumpah Pemuda yang berkobar tanpa mati telah menjadi obor yang menyalakan tekadnya untuk tetap kreatif di mancanegara, seperti Amerika Serikat.

"Semangat itu yang saya bawa untuk membuat film dan menjadi sutradara," kata dia.

Adapun Yoris memaknai Sumpah Pemuda sebagai momen untuk memompa spirit nasionalisme. "Semangat nasionalisme bukanlah untuk diajarkan, tapi untuk ditularkan," ujarnya.

Chikita meletakkan Sumpah Pemuda sebagai inspirasi bagi pemuda untuk terus berkarya membangun bangsa.

Sedangkan Agus Noor berusaha menarik makna Sumpah Pemuda dalam era informasi yang saat ini banjir informasi. "Bagaimana kita harus selektif dan kritis memaknai berita. Pelajaran dari pemuda era 1920-an, mereka tahu informasi apa yang penting bagi mereka dan bisa dijadikan isu bersama," katanya.

Laporan tentang “87 Sumpah Pemuda” itu bakal diturunkan di Kompas cetak, Rabu (28) besok, di halaman 1, dan halaman 12, juga di laman http://print.kompas.com/

Untuk menghimpun semangat Sumpah Pemuda dari berbagai pelosok negeri, Kompas turut menggunakan tagar #AkuIndonesia dalam percakapan di media sosial, terutama Twitter. Bagi yang punya aspirasi dan ingin berbagi semangat, bisa menggunakan tagar tersebut di Twitter.

Guna menyimak lebih jauh tentang pemikiran anak-anak muda tersebut, bisa dilihat di koran harian Kompas edisi Rabu (28/10), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, apa pun suku dan bahasa kita, #AkuIndonesia.  (Tim Kompas: Agus Susanto, Priyombodo, Heru Sri Kumoro, Amir Sodikin, Ilham Khoiri)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »