Biografi Sejarah Hidup K.H Munasir Ali

K.H Munasir Ali NU
Sedikit penggalan sejarah atau biografi tentang Kiai Munasir yang lahir pada 2 Maret 1919 di di Modopuro, Mojasari, Mojokerto Jawa Timur dan wafat pada tanggal 10 Oktober 2004, memiliki keteguhan moral dan integritas pribadi yang tinggi, semuanya itu tidak dimiliki secara serta merta, melainkan ditempa melalui pengalaman panjang sejak masa kanak-kanak sudah menghadapi berbagai ketidakadilan. Tatkala masih remaja  telah menghadapi diskriminasi Belanda, yakni ketika telah lulus ujian masuk MULO, tetapi tidak diperkenankan masuk sekolah tersebut sebab ia bukan anak seorang priyayi atau bangsawan.

Melihat kenyataan yang diskriminatif itu ia oleh orang tuanya dikirim ke pesantren, sebuah pendidikan keagamaan yang memiliki komitmen kerakyatan. Dengan adanya pendidikan murah ini hampir seluruh rakyat mampu memperoleh pendidikan. Bahkal Munasir juga menjadi santri kelana, yang selalu pindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi.
Walaupun sudah jauh dari jangkauan kolonial, karena telah hidup di pesantren di pedalaman yang masih bebas, tetapi tangan-tangan penjajah masih menjamahnya. Suatu saat sedang menikmati pemandangan pantai utara Rembang, tiba-tiba ia ditempeleng segerombolan konvoi Belanda yang sedang lewat, dan kerumunan masa sore itu langsung bubar. Berbagai ketidak adilan itu menjadi renungan dan mencari solusi  bagaiman melenyapkannya, karena itu ia belajar keras  baik ilmu agama, politik termasuk ilmu kanuragan.

Tidak hanya rajin tetapi santri yang berperawakan kecil itu memang tergolong santri yang cerdas. Selain menguasasi disiplin keilmuan agama dan pengetahuan umum, juga menguasai bahasa Arab dan Belanda, yang merupakan kunci pengetahuan saat itu. Karena itu ketika nyantri di Tebuireng  ia direkrut oleh KH Wahid Hasyim  sebagai kader inti yang tergabung dalam Madrasah Nidzomiyah, beberapa santri terpilih yang masuk dalam kategori ini. Saat itulah Munasir berkenalan langsung dengan organisasi NU, yang kemudian diperjuangkan hingga akhir hayatnya dengan penuh ketegaran.

Berbeda dengan belajar di sekolah Belanda paling akan menjadi ambtenaar, tetapi masuk ke pesantren buat Munasir memperoleh multi faedah, pertama, jelas untuk mendalami berbagai disiplin keilmuan, kedua, sebagai tempat menempa moralitas dan kepribadian, dengan kiai sebagai teladannya, ketika sebagai sarana menjalin networking (jaringan) pergerakan. Sebab melalui pesantren itulah Munasir berkenalan dengan berbagai tokoh lain, yang kemudian menjadi mitra perjuangannya.

Berkecamuknya revolusi mendorong Munasir muda memasuki dinas ketentaraan. Pertama ia mengikuti latihan Hisbullah di Cibarusa, setelah itu kembali ke kampung halamannya Mojokerto membentuk kesatuan Hisbullah. Di daerah itu pula akhirnya ia diangkat sebagai komandan Batalion Condromowo yang lebih dikenal dengan Batalion Munasir.

Oleh majalah AULA Edisi November 2012 hal. 58-59, Beliau termasuk 9 komandan perang dari NU, yang daftar lengkapnya sebagai berikut :
1. KH. Zainul Arifin
2. KH. Masjkur
3. KH. Munasir Ali
4. KH. Sullam Syamsun
5. KH. Iskandar Sulaiman
6. KH. Hasyim Latief
7. KH. Zainal Mustofa
8. H. Abdul Manan Widjaya
9. Hamid Roesdi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »