Berita

Humor

Opini

Posting Terbaru

Konsep Tauhid Imam Syafi'i Uluhiyyah Rububiyyah Asma Wasifat

Add Comment
Benarkan Imam Syafi'i berpendapat atau mengikuti Tauhid Trinitas? Simak tulisan berikut ini yang sekaligus membantah Buku Manhaj Salafi Imam Syafi’i (MSIS) ditulis oleh Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu, dengan kata pengantar Dr Arifin Baderi dan Dr Nur Ihsan dari Jember.

Tauhid Imam Syafii
Ilustrasi Foto Imam Syafii
Berikut tanggapan kami dengan narasi dialog agar mudah difahami.


WAHABI: Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. (Buku MSIS hlm 60).


SUNNI: Jelas tidak benar. Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga. Demikian pula ulama-ulama salaf yang lain, tidak pernah menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga.
Karena yang pertama kali melakukan pembagian tauhid menjadi tiga, justru Ibnu Taimiyah, ulama yang hidup pada abad kedelapan Hijriah. Lalu pembagian tauhid tiga ini disebarluaskan oleh kaum Wahabi sejak abad kedua belas Hijriah.



WAHABI: Yang menunjukkan pembagian tersebut, cukuplah di antaranya ucapan Imam al-Syafi’i tatkala berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ … وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

“Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya kemudian orang-orang kafir menyimpang … Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.” (Al-Imam al-Syafi’i, al-Risalah, hlm 101).

Ucapan Beliau “yang menciptakan langit dan bumi” adalah tauhid rububiyyah.
Ucapan beliau “kemudian orang-orang kafir menyimpang” adalah tauhid uluhiyyah, karena penyimpangan mereka bukan pada tauhid rububiyyah, melainkan dalam uluhiyyah..
Ucapan beliau “orang-orang yang menyifatkan tentang keagungan-Nya” adalah tauhid asma’ wa shifat. (MSIS hlm 62).

SUNNI: Kutipan dari Imam al-Syafi’i di atas justru bertentangan dengan tauhid tiga wahabi yang Anda bawakan. Anda juga telah mentahrif (melakukan distorsi) terhadap pernyataan Imam al-Syafi’i di atas. Berikut kami jelaskan bukti-bukti kesalahan Anda yang fatal dalam mengartikan perkataan Imam al-Syafi’i di atas:

Pertama, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ

 “Segala puji hanya bagi Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan dan cahaya”

Sebagaimana dimaklumi, perkataan al-Imam al-Syafi’i di atas adalah iqtibas (petikan) dari ayat al-Qur’an Surah al-An’am. Dalam ayat di atas, lafal Allah, yang berarti Uluhiyyah, dikaitkan dengan penciptaan langit-langit, bumi, kegelapan dan cahaya. Dengan demikian, seharusnya ayat tersebut dikaitkan dengan tauhid uluhiyyah, agar selaras dengan lafal Allah. Tetapi Anda dengan semborononya mengaitkannya dengan tauhid rububiyyah. Ini jelas kesalahan fatal.


Kedua, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

“kemudian orang-orang kafir menyimpang”

Terjemahan Anda terhadap ayat tersebut adalah tidak benar. Para ulama menerjemahkan ayat tersebut dengan:

 “namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”

Jadi lafal ya’diluun, oleh para ulama diartikan mempersekutukan dan menyamakan Tuhan dengan selain Tuhan, bukan diartikan menyimpang.

 Dalam ayat tersebut, lafal rabbihim, yang berarti rububiyyah, dikaitkan dengan kemusyrikan orang-orang kafir. Dengan demikian, seharusnya, kalau Anda sebagai Wahabi konsisten dengan kalimat di atas, ayat tersebut berkaitan dengan tauhid rububiyyah, bukan uluhiyyah, agar selaras dengan lafal rabbihim dalam ayat tersebut. Tetapi Anda, justru memahaminya sebagai tauhid uluhiyyah. Jadi Anda membolak-balik pernyataan ulama selevel Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, agar sesuai dengan pembagian tauhid Wahabi.

Dan apabila Anda konsisten mengikuti pernyataan Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu secara benar, maka batallah pembagian tauhid menjadi tiga ala wahabi yang Anda sebarkan. Dan nyatalah kebohongan Anda kepada umat Islam.


Ketiga, Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata:

وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

“Dan orang-orang yang menyifatkan hakikat keagungan-Nya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diri-Nya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya.”

Fragmen tersebut sebenarnya memberikan pengertian bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu beri’tiqad bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bukan benda yang tersusun (jisim) dan bukan pula menetap pada suatu arah. Karena seandainya Allah itu berupa benda atau menetap pada suatu arah, tentu orang-orang yang menyifati-Nya akan bisa sampai pada hakikat keagungan-Nya. Ternyata di sini Imam al-Syafi’i, menegaskan bahwa orang-orang yang menyifati-Nya tidak akan sampai pada hakikat keagungan-Nya, sebagaimana Dia menyifati diri-Nya, dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhluk-Nya. Pernyataan tersebut sekaligus membatalkan terhadap konsep akidah Wahabi yang meyakini bahwa Tuhan bertempat di Arasy, dan bentuknya seperti seorang laki-laki yang masih muda dan tanpa jenggot. Allah Maha Suci dari menyerupai apapun. Para ulama salaf berkata:

كُلُّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ لَيْسَ كَذَلِكَ

 Setiap apa yang terlintas dalam pikiranmu, maka Allah tidak seperti itu.

Keyakinan bahwa wujudnya Allah tanpa tempat dan arah, adalah kesepakatan Ahlussunnah Wal-Jama’ah sejak generasi salaf yang saleh. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh seorang ulama salaf, yaitu al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi dalam al-‘Aqidah al-Thahawiyyah:

تَعَالَى (يَعْنِىْ اللهُ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالْغَايَاتِ وَاْلأَرْكَانِ وَاْلأَدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, sehingga Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti tangan, wajah dan anggota badan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang), tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut. (Al-‘Aqidah al-Thahawiyyah).

Pernyataan al-Imam al-Thahawi tersebut merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama salaf yang saleh, karena al-Imam al-Thahawi menulis kitabnya, al-‘Aqidah al-Thahawiyyah sebagai rangkuman dari akidah-akidah yang menjadi keyakinan seluruh sahabat dan ulama salaf yang saleh. Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi juga mengatakan:

وَأَجْمَعُوْا عَلىَ أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَانٌ.

Ahlussunnah Wal-Jama’ah juga bersepakat, bahwa Allah itu tidak diliputi oleh tempat dan tidak dilalui oleh zaman. (Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tanpa tahun, hlm. 256).

 Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak berakidah seperti Wahabi, yang membagi tauhid menjadi tiga, rububiyyah, uhuliyyah dan asma’ wa shifat.

Baca Juga: Larangan Menuduh Saudara Muslim Itu Kafir

WAHABI: Sebagai bukti bahwa Imam al-Syafi’i meyakini tauhid uluhiyyah ala Wahabi, adalah larangan beliau membuat bangunan di atas kuburan.


SUNNI: Anda pasti salah fatal lagi.



WAHABI: Kok salah fatal sih. Coba lihat dalam kitab al-Umm, al-Imam al-Syafi’i berkata:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

 Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277). (DIKUTIP DARI MSIS hlm 68).


SUNNI: Itu bukti ketidakjujuran Anda. Mengapa demikian?

Pertama, al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu tidak suka membangun kuburan, bukan karena berkaitan dengan kesyirikan dan pelanggaran tauhid uluhiyyah seperti yang digembar-gemborkan Wahabi Anda. Tetapi karena faktor, kuburan itu bukan tempat perhiasan dan kesombongan, sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam al-Syafi’i sendiri dalam pernyataan di atas.

Kedua, Anda melakukan kesalahan dalam menerjemahkan perkataan al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu di atas. Harusnya Anda terjemahkan, aku mendapati sebagian wali (penguasa) di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan di atas kuburan tersebut.

Ketiga, Anda telah membuang perkataan Imam al-Syafi’i yang tidak sesuai dengan selera hawa nafsu Anda. Perkataan al-Imam al-Syafi’i yang Anda buang menjadi bukti bahwa perobohan bangunan di atas kuburan tersebut, ketika kuburan itu milik umum, bukan milik pribadi. Jadi masalah pembongkaran kuburan tersebut tidak ada kaitannya dengan syirik dan tauhid uluhiyyah ala Wahabi. Perkataan tersebut selengkapnya begini:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلاَءَ وَلَيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهُمَا ولم أَرَ قُبُورَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ مُجَصَّصَةً … وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك فَإِنْ كانت الْقُبُورُ في اْلأَرْضِ يَمْلِكُهَا الْمَوْتَى في حَيَاتِهِمْ أو وَرَثَتُهُمْ بَعْدَهُمْ لم يُهْدَمْ شَيْءٌ أَنْ يُبْنَى منها وَإِنَّمَا يُهْدَمُ أن هُدِمَ ما لَا يَمْلِكُهُ أَحَدٌ فَهَدْمُهُ لِئَلاَّ يُحْجَرَ على الناس مَوْضِعُ الْقَبْرِ فَلاَ يُدْفَنُ فيه أَحَدٌ فَيَضِيقُ ذلك بِالنَّاسِ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshar dibangun… Aku mendapati para imam di Makkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan aku tidak mendapati para ulama mencela hal itu. APABILA KUBURAN YANG DIBANGUN ITU HAK MILIK SI MATI KETIKA MASIH HIDUPNYA ATAU AHLI WARIS MEREKA SETELAH KEMATIANNYA, MAKA BANGUNAN ITU TIDAK BOLEH DIROBOHKAN. BANGUNAN KUBURAN YANG DIROBOHKAN HANYALAH YANG BUKAN HAK MILIK SESEORANG. MEROBOHKANNYA AGAR TIDAK MENGHALANGI ORANG LAIN UNTUK DIMAKAMKAN DI KUBURAN TERSEBUT, SEHINGGA MEMBUAT SEMPIT BAGI BANYAK ORANG. (Al-Imam al-Syafi’i, al-Umm juz 1 hlm 277)

Tips Cara Cerdas Membalas Permusuhan, Pelecahan dan Bullying

Add Comment
Apapun yang dilakukan oleh seseorang entah itu baik dan buruk pasti akan mendapatkan tanggapan yang beragam dari orang lain. Yang jadi masalah adalah ketika seseorang melakukan tindakan selalu medapatkan respon yang jelek seperti permusuhan, pelecehan, bullying dan sebagainya. Lalu bagaimana cara yang cerdas untuk membalas perlakuan tersebut. Berikut ini ada tulisan menarik dari Saudara Rijal Mumaziq seorang dosen di sebuah perguruan tinggi tentang cara cerdas membalas permusuhan, pelecehan dan tanggapan jelek dari orang lain:
************
Tips Cara Cerdas Membalas Permusuhan, Pelecahan dan Bullying

Ada beragam cara membalas permusuhan, pelecehan, dan bullying. Cara pertama dilakukan dengan sepadan: balas dengan telak. Cara ini berpotensi melahirkan dendam kesumat yang diwariskan turun temurun. Secara psikologis cara pertama ini juga kurang bagus karena bakal memunculkan paranoid, pobhia hingga trauma.

Cara kedua, balas dengan cinta kasih. Ini cara elegan nan cakep yang dilakukan oleh mereka yang punya mental baja dan ketahanan berproses. Di Liberia, ibu-ibu yang capek dengan konflik beraroma sektarian melakukan perlawanan dengan cara mogok seks. Mereka nggak bakal mau disetubuhi, kecuali papa-papa itu mau menimbun dulu bedilnya di luar kampung terlebih dulu. Jelas, bapak-bapak memilih kelonan dengan istrinya daripada mencumbu senapan. Aksi ini turut andil menghentikan perang saudara di negara kawasan Afrika tersebut. Aksi lebih elegan juga dilakukan Nelson Mandela. Saat dilantik sebagai presiden, ia mengundang bekas sipir penjara yang dulu sering melecehkannya di bangku undangan paling depan. Stok kisah semacam ini banyak, kok. Sekali lagi hanya mereka yang punya ketangguhan mental yang oke yang bisa melakukannya.

Cara ketiga: balas dengan kocak. Apabila balasan dengan senyuman belum cukup, keluarkan pertahanan humor. Ini cara yang sungguh-sungguh membangkitkan tawa sekaligus juga membuat jengkel pihak lawan. Soal ini Hadji Agoes Salim, negarawan sepuh pendiri republik ini banyak melakukannya saat berkonfrontasi dengan kelompok komunis maupun dengan politisi negara asing. Spontanitas dan kecerdasannya bermain olah kata membuat pengejek mati kutu dan wajah memerah padam. Google menyimpan banyak kisah tentang kecerdasan the old greatman ini. Cari saja sendiri.

Di lapangan hijau, Dani Alves melakukannya dengan elegan. Di saat ia bersiap-siap mengambil tendangan sudut, di belakangnya riuh suara pendukung Villareal menirukan suara monyet. Apakah bek Barcelona itu marah karena tindakan rasis suporter lawan yang juga melemparinya dengan pisang? Jelas, ia tersinggung. Tapi ia melakukan tindakan keren: ia ambil pisang yang nyaris mengenai dirinya, mengupasnya lalu menyantapnya. Kemudian ia melaksanakan tugas sebagai penendang sudut. Ini cara melawan rasisme lapangan hijau ala Alves di penghujung April 2014 silam, yang membuat petinggi FIFA angkat topi buat dirinya.

Sebelum Alves melakukan aksi cerdas ini, Samuel Eto'o sudah mengawalinya. Saat berkostum Barcelona dan bertandang di markas lawan, Eto'o adalah target utama rasisme. Ketika ia menggiring bola, teriakan ala monyet bersahutan di stadion. Apakah ia langsung ngambek lalu keluar lapangan seperti yang dilakukan Kevin Prince Boateng di AC Milan? Tidak. Eto'o malah menceploskan gol dan merayakannya dengan menirukan gerakan monyet di hadapan pengejeknya! Ahaaa, aksi tarian monyet ala Eto'o membungkam para suporter rasis.


Bagi saya, hanya mereka yang punya mental tangguh dan citarasa humor berkelas yang punya gaya unik membalas cemoohan. Tahu, bagaimana anak-anak Jokowi bermain olah kata saat dibully di medsos? Kasihan juga nih orang, mereka dibully hanya karena mereka anak Jokowi. Tapi salut juga dengan caranya merespon para pembencinya. Saya ngakak membaca tindakan Gibran dan Kaesang dalam menghadapi kebencian yang dipadupadankan dengan cemoohan itu bukan hanya dengan santai tapi dengan cerdas dan jenaka. Papa Doyan Lontong adalah istilah dari Gibran untuk "membalas" tindakan dosen pengecut yang membuat tagar Papa Doyan Lonte. Ada juga istilah "kecebong", "Oey Hong Liong" dan "Herbertus". Pembela Jokowi dan Prabowo pasti sudah paham dengan istilah ini. Tapi oleh anak anak Jokowi, ketiga istilah ini malah digunakan secara kocak. Hahaha...

Ada beragam cara menyikapi segenap kebencian dan serangan verbal. Bisa dengan serius bertele-tele, diiringi seringai dan emosi yang memuncak, atau dengan kelembutan kasih sayang. Bisa juga dengan cara santai, tak terduga, kocak, dan membuat lawan merasa gemas. Cara terakhir ini yang bagi saya unik.

Pesantren Indramayu Mendampingi Tuntutan Warga Kepada Pertamina

Add Comment
Logo Pertamina
Pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syafi'iyah KH Nasrullah Afandi melakukan pendampingan terhadap warga Desa Kedungwaru, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menyusul terjadinya perseteruan dengan PT Pertamina.

"Kasus ini terjadi sejak tujuh bulan lalu, bermula saat sumur-sumur warga desa tercemar limbah proyek milik Pertamina. Warga menuntut pertanggungjawaban, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan," kata tokoh NU Indramayu, Selasa (5/1/2016) dalam siaran pers.

Karena ketidakjelasan tanggung jawab tersebut, katanya, warga bersepakat memasang portal di jalan desa untuk menutup akses masuk kendaraan-kendaraan proyek milik Pertamina. Tetapi, tindakan warga dibalas dengan aksi teror berupa perusakan portal oleh oknum petugas keamanan proyek milik Pertamina yang diduga juga dibantu oknum aparat keamanan.

"Kejadiannya Minggu malam. Portal yang dipasang warga dicopot paksa sejumlah orang, yang beberapa di antaranya mengenakan pakaian loreng. Bagi kami ini sebuah teror, sebuah tindakan intimidasi kepada warga," tegas Kiai Nasrulloh.

Mustasyar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko itu menambahkan, proyek milik Pertamina tersebut tak hanya mengakibatkan pencemaran di sumur-sumur milik warga, namun juga rusaknya belasan hektar sawah. 

Selain itu kendaraan berat yang berlalu lalang mengakibatkan polusi udara dan suara, serta merusak jalan desa. "Kami menuntut pertanggungjawaban dari Pertamina. Kami juga menuntut hentikan intimidasi kepada warga," tegasnya.

Sementara KH Hambali Abdulloh, sesepuh NU desa setempat, juga menyampaikan permintaan agar intimidasi kepada warga dihentikan. Dia meminta Pertamina bisa menunjukkan itikad baik dalam menyelesaikan perseteruan dengan warga tersebut.

"Kami selalu berpesan agar warga tidak terpancing emosinya. Karena itu kami meminta kepada Pertamina untuk bisa secepatnya menyelesaikan permasalahan dengan warga tersebut," ungkap Kiai Hambali.

Persoalan limbah proyek milik Pertamina yang mencemari tersebut sebelumnya sudah dilaporkan oleh warga Desa Kedungwaru, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, kepada DPRD setempat. DPRD mendukung untuk diselesaikannya permasalahan tersebut secara baik-baik.

Menikah Menambah Kesehatan Emosi dan Mental Pria

Add Comment
Manfaat Pernikahan
Siapapun tahu bahwa menikah merupakan hal yang baik. Apalagi didalam agama sangat dianjurkan untuk menikah karena Rosulullah memerintahkan umatnya untuk menikah. Namun tahukah Anda, bahwa dengan menikah baik pria atau wanita akan memberikan dampak menambah kesehatan emosi dan mental. Berikut tulisan tentang manfaat menikah yang kami ambil dari detik.com
*************

Jika kekasih belum juga melamar Anda untuk menikah, mereka mungkin perlu membaca hasil penelitian terbaru ini. Sebuah studi dipublikasikan oleh Journal of Family Psychology mengungkapkan jika ternyata pernikahan sangat baik untuk kesehatan para pria.

Berdasarkan penelitian yang dibuat oleh Ohio State University, para pria memiliki kesehatan mental yang lebih baik ketika mereka berada dalam satu komitmen. Untuk penelitian tersebut, para peneliti melihat data-data dari National Longitudinal Survey of Youth, 1997. Studi itu berisi tentang pria kelahiran Amerika yang lahir antara tahun 1980 dan 1984.

Mereka kemudian menganalisa bagaimana pernikahan bisa memengaruhi aspek dalam hidup seseorang, termasuk kesehatan emosional. Penelitian menemukan jika pria mengalami penurunan tekanan emosional ketika mereka pergi kencan lalu menikah. Namun mereka tidak mengalami penurunan tekanan emosional ketika mereka hanya hidup bersama dengan pasangan tanpa ikatan pernikahan.

"Dibandingkan wanita, pria dilaporkan menganggap hidup bersama tanpa ikatan pernikahan adalah sebuah tes dalam hubungan. Dan hal itu membuat pola komunikasi jadi negatif, agresi fisik yang lebih besar dan penurun komitmen pada hubungan," tulis penelitian itu. "Namun pria yang langsung menikah tidak mungkin melihat pernikahan sebagai tes dalam hubungan. Mereka lebih menikmati keuntungan dari pernikahan dan berinvestasi lebih besar untuk itu."

Jika menikah menjadi daftar keinginan para pria masa kini, lalu bagaimana dengan wanita? Sebuah survei pernah dilakukan di tahun 2015 lalu. Survei yang dilakukan oleh Sloggi Feeling Freedom ini mengungkapkan jika para wanita masa kini justru tak lagi meletakkan 'pernikahan' di dalam daftar teratas mereka.

Survei yang dilakukan terhadap 2.000 wanita di Inggris itu justru lebih memilih traveling daripada menikah. 42 persen wanita merasa bahwa mereka tak bisa memiliki semua hal dalam satu waktu. Misalnya saja anak, karier dan pernikahan tanpa kehilangan kebebasannya. 30 persen wanita juga mengakui mereka lebih menghargai kebebasan dibanding pernikahan. 

Karier masih menjadi pertimbangan alasan wanita ragu menikah. 16 persen wanita bahkan mengatakan lebih memilih pekerjaan dibanding menikah. Namun ternyata, karier masih juga dikalahkan oleh traveling dengan 3 dari 10 wanita rela kehilangan pekerjaan untuk 'melihat dunia'. (asf/asf)